Ketika
aku sudah meraih mimpiku untuk memakai seragam putih abu-abu, kau malah
bersemayam dalam tubuhku. Ketika seharusnya aku mulai merajut mimpi-mimpiku
menjadi kain indah nan berkualitas, kau buat aku harus terbujur lemas di
ranjang. Ketika aku sedang asyik bermain dengan temanku, kau paksa darah keluar
dari lubang hidungku. Mimisan, medis biasa sebut itu.
***
Betapa
nestavanya hidup ini. Apa yang kau rasakan jika kau terpaksa hidup bahkan
menghidupi monster yang kelak akan membunuhmu? Umurku baru 16 tahun. Dan aku tidak tahu kapan
dia akan berakhir. Hari ini,besok ataukah lusa,atau mungkin besoknya lagi. Aku
sunggu tak tahu. Aku cukup tahu, bahwa hidup yang kujalani terasa begitu berat.
Ever. Biasa
aku dipanggil. Ibuku adalah fans berat seri immortal Everymore karya Alyson
Noel, penulis yang sekarang tinggal di Laguna Beach, California. Dimana Ever
adalah tokoh utamanya.
Ketika aku mengawali sekolah di SMA
di kota kelahiranku, aku sering merasa nyeri dikepalaku bagian kiri. Aku juga
sering mimisan karenanya. Aku mencoba berpikir positif. Meyakinkan diri bahwa
aku hanya kelelahan. Hingga suatu hari, ibu mulai curiga dan membawaku kedokter keluarga kami. Dia
merujukku ke rumah sakit dan mempertemukanku dengan seorang dokter yang
kepalanya botak dengan mata minusnya yang membuatku hampir saja mati berdiri. ’Don’t
judge a book by it’s cover.’ Sepertinya itu berlaku untuknya. Dia sangat seram
sekali,tapi hatinya sungguh mulia. serius nih,dia sangat baik.
Dia mengajakku ke laboraturium. Sebagai
orang yang tak tahu apa-apa aku hanya diam dan selalu menuruti perintanya. Dia
bilang berbaring, aku berbaring. Yang jelas aku lakukan apapun perintanya. Aku
cukup gemetar ketika dia membawaku ke
laboraturium. Sebab, disana kutemui sebuah suntik dengan ukuran yang membuatku
bungkam seribu bahasa. Sangat besar, kupikir. Entahlah. Aku sangat takut dengan
suntik. Jujur, sesakit apapun aku, aku tak mau berurusan dengan suntik. Lebih
baik aku menahan sakit, dari pada membiarkan jarum suntik itu menembus
dagingku. Takkan pernah kubiarkan.
“Bagaimana hasilnya dok?” Tanya ibu
penasaran yang sedari tadi menunggu dengan wajah cemas.
“Bisa kita bicara berdua, bu?” Tanya dokter.
“Ever tunggu disini ya! Jangan kemana-mana!” Aku hanya diam kemudian segera menghempaskan bokongku
dikursi tunggu. Nyeri di otak kiri itu muncul lagi. Sakit sekali. Bahkan untuk
bicarapun aku tak sanggup. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan didalam. Tiba-tiba
ibu keluar dan segera mengajakku pulang. Diperjalanan ibu hanya diam saja. Entahlah,
apa yang terjadi denganku.
Sesampainya
dirumah, ibu mengantarkanku kekamar dan menyuruhku istirahat. Karena aku juga
merasakan sakitnya otak kiriku, kuturuti saja perintanya. Aku tak menceritakan
padanya betapa sakitnya kepalaku .Aku
juga tak berani menangis didepannya. Setelah ibu keluar dari kamar, aku
langsung berbaring diranjang dan memejamkan mataku. Ketika aku hendak terlarut
dalam mimpi, terdengar olehku ibu menangis. Aku terkejut bukan main. Ada apa
gerangan? Cukup sekal saja aku melihat perempuan terhebatku itu menangis ketika
ayah meninggal karena kecelakaan tahun lalu. Cukup.
Aku
segera berlari mendekati kamar ibu. Mendengar ocehannya,ingin tahu apa yang
terjadi. Tapi ternyata, dia hanya meraung tanpa ngelantur seperti orang
kebanyakan. Kumasuki kamar ibu. Seketika dia terkejut dan mulai menyeka air
matanya.
“Bu, ibu kenapa?”
“Tidak kok, ver. Ibu Cuma capek aja.Badan ibu rasanya sakit
semua.”
“Ibu kangen ayah ya?” Aku coba menebak.
“Ya. Ibu kangen banget sama ayah. Gimana ya kabarnya
disana?” Tanya ibu menerawang cakrawala yang terlihat jelas dari jendela kamar
ibu yang memang kamar kami terletak di lantai 2.
“Ever yakin, disana ayah pasti bahagia, bu. Ibu jangan sedih
ya! Everkan ikut sedih.”
“Maafin ibu ya,Ver.”
“Kok minta maaf sama Ever sih, bu?”
Ibu hanya tersenyum. ” Kalau ibu memang lelah, tidurlah bu! Ever juga mau
istirahat dulu ya, bu.” Pamitku pada ibu.
“Ever
mau kemana?” Ibu terkejut melihatku memakai seragam sekolah.
“Mau sekolah dong, bu.” Jawabku santai.Diwaktu yang
bersamaan tiba-tiba handphoneku
bordering. Rara. Nama itu yang terpampang jelas di monitor. Rara adalah teman
sebangkuku yang juga merupakan bintang kelas. Meski begitu dia sangat humble. Selain itu dia juga cantik. jadi,
tidak heran kalau dia merupakan cewek terpopuler di sekolah.
“Ver, kamu out ya?
kenapa?”
“Out gimana? Orang
ini aku mau berangkat sekolah kok.”
“Tapi kemaren ibu kamu ke sekolah dan bilang kamu gak bakal
sekolah lagi.” Deg. Jantungku serasa mau copot. Aku sebel sama ibu. Kenapa ibu
ngambil keputusan sepihak gini. Tanpa kuhiraukan panggilan ibu, aku segera
berlari ke kamar. Membanting pintu dengan sekuat tenaga yang kumiliki. Aku
tidak mau keluar kamar seharian. Bahkan ku abaikan maag yang sedari tadi
menyiksaku, memaksaku untuk menyerah. Aku berbintang leo. Jadi, jangan heran
jika aku bertingkah cukup keras seperti ini.
Sampai
malam aku tetap tidak mau keluar kamar. Meski ibu sudah mohon-mohon dibalik
pintu sana. Maafin Ever, bu. Ever selalu nyakiti ibu. Ever cuma gak mau
dibohongi. Ever cuma mau tahu alasannya
apa. Kenapa ibu berhentikan aku sekolah? Aku tahu memang ibu yang biayai
sekolahku.Tapi gak gini jugakan, bu.
“Ever! Baik ibu bakal cerItain semuanya.Tapi, Ever janji gak
boleh marah, nangis, putus asa atau apapun itu?”
“Ever janji, bu. Ever cuma mau ibu jelasin ke Ever.” Sebelum
bercerita suara ibu sudah parau terlebih dahulu. Aku tahu ibu pasti menangis. Maafin
Ever ya, bu.
“Ibu memberhentikan kamu sekolah, karena kamu tidak boleh
terlalu banyak berpikir lagi. Kamu terdiagnosa mengidap . . .” Lama ibu
terdiam.” Kanke . . .r . . .otak, nak. Maafin ibu, nak. Maafin, ibu” Penjelasan ibu, adalah penjelasan yang
sangat kutunggu-tunggu.Tapi justru itu pulah yang menjungkir balikkan
duniaku.Tulang-tulangku terasa remuk redam. Aku tak sanggup berkata-kata. Lama
aku mematung, hingga akhirnya tangisan itu meledak.
“Ever! Buka
pintunya,nak! Jangan buat ibu khawatir!”
“Bu, tinggalin Ever sendirian!
Ini bukan salah ibu kok.” Ujarku dengan terbata-bata. Aku masih belum sanggup
menerima kenyataan ini. Yang jelas sekali telah membunuh mimpi-mimpiku.
Mungkin
waktuku tidak lama lagi. MInggu depan adalah kemoterapi ketujuhku. Semenjak
pengakuan ibu, sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktu di villa. Bersama
ibu tentunya. Dialah satu-satunya orang yang kupunya di jagat ini. Begitupun
dia. Aku tak sanggup untuk mengguratkan kesedihan itu lagi di wajah manisnya.
Aku
banyak menghabiskan waktu di taman. Berbaring di rerumputan hijau,menerawang
semburat jingga di awan lembayung senja
yang begitu indahnya. Selama aku tinggal di villa, tak sekalipun aku mau
ketinggalan melihat betapa indahnya awan lembayung senja yang selalu
menyejukkan hati.
Beginilah
hari-hariku kini. Menunggu kapan malaikat maut menjemputku. Meski tidak dengan
keadaan wanita yang seutuhnya. Kini, aku botak sama seperti dokter yang hampir
saja membuatku mati berdiri, 3 tahun yang lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar