Selasa, 05 Mei 2015

Nestava



                Ketika aku sudah meraih mimpiku untuk memakai seragam putih abu-abu, kau malah bersemayam dalam tubuhku. Ketika seharusnya aku mulai merajut mimpi-mimpiku menjadi kain indah nan berkualitas, kau buat aku harus terbujur lemas di ranjang. Ketika aku sedang asyik bermain dengan temanku, kau paksa darah keluar dari lubang hidungku. Mimisan, medis biasa sebut itu.
***
                Betapa nestavanya hidup ini. Apa yang kau rasakan jika kau terpaksa hidup bahkan menghidupi monster yang kelak akan membunuhmu?  Umurku baru 16 tahun. Dan aku tidak tahu kapan dia akan berakhir. Hari ini,besok ataukah lusa,atau mungkin besoknya lagi. Aku sunggu tak tahu. Aku cukup tahu, bahwa hidup yang kujalani terasa begitu berat.
                Ever. Biasa aku dipanggil. Ibuku adalah fans berat seri immortal Everymore karya Alyson Noel, penulis yang sekarang tinggal di Laguna Beach, California. Dimana Ever adalah tokoh utamanya.
Ketika aku mengawali sekolah di SMA di kota kelahiranku, aku sering merasa nyeri dikepalaku bagian kiri. Aku juga sering mimisan karenanya. Aku mencoba berpikir positif. Meyakinkan diri bahwa aku hanya kelelahan. Hingga suatu hari, ibu mulai curiga dan  membawaku kedokter keluarga kami. Dia merujukku ke rumah sakit dan mempertemukanku dengan seorang dokter yang kepalanya botak dengan mata minusnya yang membuatku hampir saja mati berdiri. ’Don’t judge a book by it’s cover.’ Sepertinya itu berlaku untuknya. Dia sangat seram sekali,tapi hatinya sungguh mulia. serius nih,dia sangat baik.
Dia mengajakku ke laboraturium. Sebagai orang yang tak tahu apa-apa aku hanya diam dan selalu menuruti perintanya. Dia bilang berbaring, aku berbaring. Yang jelas aku lakukan apapun perintanya. Aku cukup gemetar ketika dia  membawaku ke laboraturium. Sebab, disana kutemui sebuah suntik dengan ukuran yang membuatku bungkam seribu bahasa. Sangat besar, kupikir. Entahlah. Aku sangat takut dengan suntik. Jujur, sesakit apapun aku, aku tak mau berurusan dengan suntik. Lebih baik aku menahan sakit, dari pada membiarkan jarum suntik itu menembus dagingku. Takkan pernah kubiarkan.
“Bagaimana hasilnya dok?” Tanya ibu penasaran yang sedari tadi menunggu dengan wajah cemas.
“Bisa kita bicara berdua, bu?”  Tanya dokter.
“Ever tunggu disini ya! Jangan kemana-mana!”  Aku hanya diam kemudian segera menghempaskan bokongku dikursi tunggu. Nyeri di otak kiri itu muncul lagi. Sakit sekali. Bahkan untuk bicarapun aku tak sanggup. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan didalam. Tiba-tiba ibu keluar dan segera mengajakku pulang. Diperjalanan ibu hanya diam saja. Entahlah, apa yang terjadi denganku.
                Sesampainya dirumah, ibu mengantarkanku kekamar dan menyuruhku istirahat. Karena aku juga merasakan sakitnya otak kiriku, kuturuti saja perintanya. Aku tak menceritakan padanya betapa sakitnya kepalaku  .Aku juga tak berani menangis didepannya. Setelah ibu keluar dari kamar, aku langsung berbaring diranjang dan memejamkan mataku. Ketika aku hendak terlarut dalam mimpi, terdengar olehku ibu menangis. Aku terkejut bukan main. Ada apa gerangan? Cukup sekal saja aku melihat perempuan terhebatku itu menangis ketika ayah meninggal karena kecelakaan tahun lalu. Cukup.
                Aku segera berlari mendekati kamar ibu. Mendengar ocehannya,ingin tahu apa yang terjadi. Tapi ternyata, dia hanya meraung tanpa ngelantur seperti orang kebanyakan. Kumasuki kamar ibu. Seketika dia terkejut dan mulai menyeka air matanya.
“Bu, ibu kenapa?”
“Tidak kok, ver. Ibu Cuma capek aja.Badan ibu rasanya sakit semua.”
“Ibu kangen ayah ya?” Aku coba menebak.
“Ya. Ibu kangen banget sama ayah. Gimana ya kabarnya disana?” Tanya ibu menerawang cakrawala yang terlihat jelas dari jendela kamar ibu yang memang kamar kami terletak di lantai 2.
“Ever yakin, disana ayah pasti bahagia, bu. Ibu jangan sedih ya! Everkan  ikut sedih.”
“Maafin ibu ya,Ver.”
“Kok minta maaf sama Ever sih, bu?” Ibu hanya tersenyum. ” Kalau ibu memang lelah, tidurlah bu! Ever juga mau istirahat dulu ya, bu.” Pamitku pada ibu.
                “Ever mau kemana?” Ibu terkejut melihatku memakai seragam sekolah.
“Mau sekolah dong, bu.” Jawabku santai.Diwaktu yang bersamaan tiba-tiba handphoneku bordering. Rara. Nama itu yang terpampang jelas di monitor. Rara adalah teman sebangkuku yang juga merupakan bintang kelas. Meski begitu dia sangat humble. Selain itu dia juga cantik. jadi, tidak heran kalau dia merupakan cewek terpopuler di sekolah.
“Ver, kamu out ya? kenapa?”
Out gimana? Orang ini aku mau berangkat sekolah kok.”
“Tapi kemaren ibu kamu ke sekolah dan bilang kamu gak bakal sekolah lagi.” Deg. Jantungku serasa mau copot. Aku sebel sama ibu. Kenapa ibu ngambil keputusan sepihak gini. Tanpa kuhiraukan panggilan ibu, aku segera berlari ke kamar. Membanting pintu dengan sekuat tenaga yang kumiliki. Aku tidak mau keluar kamar seharian. Bahkan ku abaikan maag yang sedari tadi menyiksaku, memaksaku untuk menyerah. Aku berbintang leo. Jadi, jangan heran jika aku bertingkah cukup keras seperti ini.
                Sampai malam aku tetap tidak mau keluar kamar. Meski ibu sudah mohon-mohon dibalik pintu sana. Maafin Ever, bu. Ever selalu nyakiti ibu. Ever cuma gak mau dibohongi. Ever  cuma mau tahu alasannya apa. Kenapa ibu berhentikan aku sekolah? Aku tahu memang ibu yang biayai sekolahku.Tapi gak gini jugakan, bu.
“Ever! Baik ibu bakal cerItain semuanya.Tapi, Ever janji gak boleh marah, nangis, putus asa atau apapun itu?”
“Ever janji, bu. Ever cuma mau ibu jelasin ke Ever.” Sebelum bercerita suara ibu sudah parau terlebih dahulu. Aku tahu ibu pasti menangis. Maafin Ever ya, bu.
“Ibu memberhentikan kamu sekolah, karena kamu tidak boleh terlalu banyak berpikir lagi. Kamu terdiagnosa mengidap . . .” Lama ibu terdiam.” Kanke . . .r . . .otak, nak. Maafin ibu, nak. Maafin, ibu”    Penjelasan ibu, adalah penjelasan yang sangat kutunggu-tunggu.Tapi justru itu pulah yang menjungkir balikkan duniaku.Tulang-tulangku terasa remuk redam. Aku tak sanggup berkata-kata. Lama aku mematung, hingga akhirnya tangisan itu meledak.
“Ever! Buka  pintunya,nak! Jangan buat ibu khawatir!”
“Bu, tinggalin Ever sendirian! Ini bukan salah ibu kok.” Ujarku dengan terbata-bata. Aku masih belum sanggup menerima kenyataan ini. Yang jelas sekali telah membunuh mimpi-mimpiku.
                Mungkin waktuku tidak lama lagi. MInggu depan adalah kemoterapi ketujuhku. Semenjak pengakuan ibu, sekarang aku lebih banyak menghabiskan waktu di villa. Bersama ibu tentunya. Dialah satu-satunya orang yang kupunya di jagat ini. Begitupun dia. Aku tak sanggup untuk mengguratkan kesedihan itu lagi di wajah manisnya.
                Aku banyak menghabiskan waktu di taman. Berbaring di rerumputan hijau,menerawang semburat jingga di awan lembayung senja  yang begitu indahnya. Selama aku tinggal di villa, tak sekalipun aku mau ketinggalan melihat betapa indahnya awan lembayung senja yang selalu menyejukkan hati.
                Beginilah hari-hariku kini. Menunggu kapan malaikat maut menjemputku. Meski tidak dengan keadaan wanita yang seutuhnya. Kini, aku botak sama seperti dokter yang hampir saja membuatku mati berdiri, 3 tahun yang lalu.







               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar